Rencana menggapai puncak tertinggi di jawa tengah sementara tertunda, hal ini dikarenakan jatah bolos kuliah gw yang tinggal satu (rencana sih jatahnya mau di pake buat ke semeru, insyaAllah.. :D) dan juga itinerary (rencana perjalanan) yang dibuat temen soal trip ke gunung slamet terlalu mepet.. mengingat long weekend di bulan april kemarin itu pasti bakalan berebut angkutan sama yang mau mudik.. jadwalnya pasti molor..
Kemudian gw putuskan menghabiskan liburan dengan trip yang dekat2 aja… yaitu jalan-jalan di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Dan karena di TNGGP alias Gepang juga ramee banget.. kuota pendakian pun habis di booking. Dari Mapala UI aja udah 200 orang.. belum yang lain2..
Akhirnya dibuatlah rencana perjalanan ‘hiking ceria Gunung Geger Bentang’..
Rute perjalanannya lumayan singkat: Start dari kebun raya cibodas – Gn. Geger Bentang – finish Puncak Pass. Rencana berangkat pagi - pulang sore alias ‘tektok’.. tanpa opsi buka tenda..
Gunung Geger Bentang yang memiliki ketinggian 2042 Mdpl merupakan punggungan dari Gunung Pangrango. Dari puncak Gn. Geger Bentang ke Gn. Pangrango setidaknya membutuhkan waktu tempuh 12 jam lagi, menuruni lembah terus nanjak sampai tembus ke mandalawangi. Jalur Geger Bentang memang bukan jalur resmi pendakian, sehingga yang lewat sini biasanya bukan pendaki umum, melainkan para calon mapala yang sedang di gojlok pendidikan dasar (diksar).
Sabtu, 23 April 2011
Sore hari pulang kuliah langsung balik ke kosan untuk tidur.. awalnya sebenernya gw agak underestimate sama kondisi jalur Geger Bentang, tingginya yang 2000 meter lebih sedikit sepertinya ga berat2 amat.
‘Banyak pacet..’ Cuma itu aja yang dikhawatirkan sebelumnya.. hehe..
Pukul 20.00 gw berangkat.. nunggu Sandi di Ciawi sambil nonton sebentar acara tabligh akbar di masjid Juanda.. rame bener di Ciawi..
Pukul 21.30 bus ‘Doa Ibu’ keluar tol jagorawi, karena Sandi udah terlanjur bayar untuk sampai ke Cibodas, akhirnya gw ikut naik ke bus. Sedangkan Kang Hadi, Om Anwar dan Ferta nyusul kemudian.
Sekitar pukul 22.30 sampai di depan plang raksasa bertuliskan Kebun Raya Cibodas.. mampir sebentar ke mini market.. abis itu jalan kaki menuju warung Mang Idi.. tapi baru setengah perjalanan, ada angkot lewat.. lumayan.. hehe..
Sampe Mang Idi, gw makan indomie rebus sambil nonton bola sekalian nunggu Kang Hadi cs yg masih dalam perjalanan.
Sekitar Pukul 00.30 Kang Hadi, Om Anwar dan Ferta tiba, setelah itu kami ngobrol2 sebentar dan tidur.
Minggu, 24 April 2011
Pukul 05.00 gw sama Sandi bangun duluan. Sholat sekalian sarapan..
Pukul 06.45 kami mulai bergerak dari warung Mang Idi (Kebun Raya Cibodas) melewati ladang penduduk dan terus masuk ke batas hutan. Cuaca pagi itu berawan dan agak sedikit mendung.
Hutannya bener2 basah dan lembab.. ga heran kalo banyak pacetnya..
Dan Surprisingly.. treknya ternyata lumayan asoy.. haha..
Banyak juga tanjakan curam yang membuat dagu mencium lutut.. lebatnya semak belukar dan banyaknya sarang laba-laba menunjukkan kalo jalur ini emang sangat jarang dilalui orang..
Jalan diselingi dengan istirahat untuk melepas pacet2 yang banyak menempel di sepatu.. (-_-)’
Untung gw full armor anti pacet.. pake celana panjang + kaos kaki panjang + gaiter + ramuan minyak kayu putih dicampur sunblock.. hahaha.. :D
Dengan ngos2an, sekitar pukul 10.00 akhirnya tiba di puncak..
Berteduh di bivak karena turun hujan sambil istirahat dan makan..
Sekitar pukul 11.00, mulai turun menuju Puncak Pass setelah sebelumnya foto2 dulu.. hehe..
Jalur dari puncak Gn. Geger Bentang menuju Puncak Pass jalurnya juga ga kalah parahnya.. di beberapa titik terdapat jalur yang longsor sehingga untuk melewatinya harus hati-hati karena kami berjalan di sebelah jurang.
Mengandalkan ingatan om Anwar dan bantuan peta, kami menyusuri hutan yang masih alami dan liar.
Pukul 12.00 kami sampai di persimpangan jalur..
Jalur ke kiri kearah bekas kampung persembunyian DI/TII pimpinan Kartosuwiryo yang konon sekarang tinggal puingnya saja..
Jalur ke kanan arah kembali ke Kebun Raya Cibodas namun beda jalur dengan jalur berangkat..
Sedangkan Jalur lurus adalah jalur menuju ke arah Puncak Pass..
Suasana perjalanan berubah tiba-tiba dari sebelumnya ramai dengan obrolan dan canda tawa menjadi hening dan penuh waspada ketika kami menemukan jejak atau bekas tapak yang bentuknya mirip jejak kucing namun ukurannya lebih lebar dan besar. Dalamnya bekas jejak yang ditinggalkan di tanah menandakan hewan tersebut mungkin agak berat.
Jejaknya kemungkinan masih baru karena tanah basah habis diguyur hujan, dan arahnya sepertinya searah dengan kami. Kami yang tadinya jalan masing2 terpencar sekitar 10 meteran jadi semakin merapat plus muka pucat..
Dan psssst.. jangan berisik kata om anwar… hahaha.. :D
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sendiri memang habitat bagi hewan langka dan dilindungi seperti ajag (anjing hutan), kucing hutan atau macan akar, macan kumbang dan macan tutul (panthera pardus melas).
Setelah lama berjalan dengan suasana kaku.. akhirnya dari kejauhan kami mendengar suara orang..
Ternyata sedang ada acara diksar oleh organisasi pecinta alam dari Mangga Dua, Jakarta..
Gw liat para junior dengan badan dan wajah penuh lumpur duduk di atas tanah sambil makan ngeriung rame2.. sedangkan seniornya membentak: Ayo Makaan..!! (gw ga tau tuh orang2 dikasih makan apa..? hahaha.. :D)
Seniornya yang lain ada juga yang bersuara hoek.. hoek.. pura2 mau muntah untuk mengganggu acara makan para junior.. Pengen ketawa gw liatnya.. tapi kasian juga sih.. hehe.. (untung dulu gw ga pernah ikut mapala-mapala an..)
Pukul 14.00 lebih sedikit akhirnya sampai juga di Puncak Pass..
Ga tau kenapa rasanya saat itu kami seneng banget liat jalan raya.. hahaha.. :D
Tapi pengendara di jalan justru melihat dengan tampang aneh ke kami yang sedang foto2 di depan plang taman nasional dengan pakaian bernoda lumpur.. :P
Setelah itu kami naik angkot menuju masjid At-Ta’awun yang rame dengan wisatawan (ini tempat ibadah apa tempat wisata.????) untuk bersih-bersih, mandi, dan sholat… sedangkan ferta yang kebetulan non muslim, setelah bersih2 dititipin jagain tas kami di depan..
Sebelum pulang kami makan dulu di rumah makan persis di depan masjid..
Dan pukul 16.30 kami pulang ke tempat masing2..
Atas trip singkat yang seru ini gw berterima kasih kepada:
1. Allah SWT yang memberikan keselamatan dari berangkat sampai pulangnya
2. Mama..
3. temen seperjalanan: Kang Hadi, Om Anwar, Sandi, dan Ferta (kaskuser Medan yang juga seorang guide Danau Toba, Sumatera Utara)
‘Beratnya medan ternyata emang ga bisa diukur dari altitude-nya..’














0 comments:
Poskan Komentar