Senin, November 07, 2011

Kecopetan di Jakarta


Ini lah salah satu alasan bagi gw untuk males ke Jakarta. Selain udaranya yang panas menyengat, banjir, macet dimana2, dan apalagi kalo bukan 'kriminalitas'nya. Ada yang bilang Jakarta kota yang keras, lebih kejam ibu kota daripada ibu tiri katanya. hehe..

Tapi sebutan tersebut emang bukan isapan jempol belaka. Setidaknya semua orang baik warga asli maupun pendatang yang mengadu nasib di ibukota tercinta sepakat dengan pernyataan ini. 

Contohnya pengalaman gw tadi siang di depan terminal Senen yang memang tergolong daerah rawan kejahatan, baru aja gw ngalamin kecopetan.

Bermula dari rencana perjalanan ke kota Magelang untuk menghadiri acara pernikahan sahabat gw, Amri, gw dan Rahmat nyari2 tiket kereta jurusan Jogja kesana kemari. Seminggu sebelum hari H ternyata tiket sudah banyak yang habis dipesan.

Ketika kami ke agen kereta di taman topi - Bogor, ternyata tiket kereta eksekutif (Taksaka) dan bisnis (Senja Utama) sudah habis dipesan. Ngga mau pulang sia2 tanpa tiket, akhirnya kita putuskan untuk nyari tiket ekonomi (Progo) di Stasiun Senen karena tiket ekonomi ngga bisa dipesan online dan harus dipesan di loket.

Naik KRL Commuter dari Stasiun Bogor sampai Stasiun Gondangdia, lalu kami naik bus Kopaja P20 dan turun di terminal Senen. Berjalan sebentar menuju Stasiun dan ikut mengantri di loket yang lumayan padat. Sampai depan loket ternyata tiket ekonomi juga habis.

Dengan perasaan kecewa (halah).. gw dan rahmat memutuskan untuk balik ke Bogor dan rencananya lewat stasiun Gambir sekalian nyari tiket (kalo ada). Di depan Stasiun gw nanya sama orang di pinggir jalan mengenai trayek bus yang melewati Stasiun Gambir. Si bapak yang lagi nongkrong itu bilang kalo gw bisa naik bus Metromini P15 entah jurusan mana gw lupa.

Gw ngga tau apakah komplotan pencopet mendengar percakapan gw dan bapak tadi tapi tiba2 ketika bus metromini P15 tersebut lewat ternyata ada banyak orang yang juga nyetopin bus selain gw dan rahmat. Keadaan makin janggal ketika ada beberapa orang berebut naik bus tapi seperti menghalangi pintu masuk.

Rahmat udah duduk di kursi sedangkan gw tertahan di tangga pintu masuk bus. Seinget gw ada dua orang yang nahan di pintu dan satu orang eksekutor yang meraih barang yang ada di saku depan kemeja gw. Peristiwa terjadi begitu cepat, gw tiba2 sadar dan melihat sekilas ada tangan masuk ke kantong gw.

Gw langsung periksa kantong dan ternyata handphone gw masih ada. Langsung gw pukul2 pintu sambil teriak ke supir: Kiri.. Kiri Bang.. Stop..!

Si Rahmat yang baru aja duduk melongo ngeliat gw bilang stop dan sepertinya dia belum sadar sama apa yang terjadi. Gw bilang ke Rahmat: Mat, udah turun aja disini..!!
Setelah turun gw bilang: itu bus isinya copet semua mat.

Dari bus kosong yang baru keluar terminal itu ada kira2 7-8 orang yang baru naik barengan sama gw dan Rahmat. Masing-masing dari mereka sepertinya punya peran sendiri-sendiri, ada yang menahan target, ada yang mencoba mengalihkan perhatian, dan juga pastinya ada eksekutor yang mencopet. Tapi Selain itu, gw juga perhatikan temen2 mereka yang masuk lewat pintu belakang juga ada yang sebagai pengawal atau apa namanya. Karena selain mereka pasif dan hanya mengawasi di belakang tapi mereka berkomunikasi dengan anggota komplotan yang lain.

Gw ngga ngebayangin kalo tetep berada di dalam bus tersebut. Bisa-bisa bukan pencopetan lagi, tapi juga berkembang jadi perampokan karena situasinya gw cuma berdua di kepung sama komplotan penjahat kaya gitu. Sekilas mereka berpenampilan biasa dengan kaos dan celana jeans, serta beberapa dari mereka memiliki tato yang menghiasi bagian lengan.

Waktu turun dari bus gw cek lagi dan alhamdulillah ternyata yang berhasil mereka ambil cuma ktp dan kertas formulir tiket pemesenan kereta yang batal (karena tiket keretanya habis). Sedangkan handphone, uang 200 ribu untuk membeli tiket, bukti transfer uang muka hotel masih ada. :D

Di kantong belakang celana padahal dompet gw isi uang juga dan ATM tapi untungnya masih ada pada tempatnya.

Agak mengherankan juga kenapa handphone dan uang bisa lolos dari usaha pencopetan tersebut karena posisinya tercampur dengan form pemesanan tiket dan ktp gw. Bersyukur deh ternyata mungkin memang itu masih rezeki gw jadi bisa selamat. :D

So.. temen2 harus waspada terus ketika naik transportasi umum di Jakarta. karena apabila kita lengah sedikit, para kriminal akan mencari kesempatan untuk bertindak jahat.

waspadalah.. waspadalah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar