Kamis, Agustus 13, 2009

Teroris dalam Reality Show Televisi

Gegap gempita dunia pers Indonesia seakan meledak sejak datangnya era reformasi. Hal ini ditandai dengan lahirnya UU No.40 tahun 1999 tentang pers, dimana pada pasal 4 ayat (2) dan (3) terkandung konsep 'kemerdekaan pers' yang didefinisikan sebagai bentuk kebebasan untuk mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi tanpa hambatan dari pihak manapun.

Televisi sebagai salah satu media penyampaian informasi yang paling efektif pun tidak lepas dari euforia kebebasan pers ini. Apalagi di Indonesia yang
penetrasi pengguna internetnya masih rendah dan sedangkan media cetak yang tentu saja 'kalah cepat' dalam mewartakan peristiwa, maka membuat televisi menjadi primadona.

Ketika peristiwa penting terjadi, Stasiun tv berlomba2 untuk mengulas kejadian secara ekslusif, mendalam dan menjadi yang tercepat untuk meraih rating pemirsa. Seperti yang masih segar di ingatan kita semua, yaitu peristiwa pengepungan teroris di temanggung, jawa tengah, 7-8 Agustus lalu.


Breaking news menyampaikan perkembangan dari menit ke menit drama pengepungan yang dilakukan densus 88 anti-teror polri tersebut.

Pengepungan teroris berdurasi 18 jam ini menjadi konten wajib semua stasiun tv. Dan diantara semuanya, Metro tv dan tvone yang mengklaim diri sebagai news channel merupakan yang paling maksimal dalam menayangkan liputannya.

Namun dalam hal ekslusivitas liputan, tvone boleh dibilang lebih unggul daripada metro tv. Kedekatan dan koneksi pemred tvone, Karni Ilyas, dengan salah satu petinggi polri gosipnya menjadi alasan utama hal tersebut bisa terjadi. (yg kek gini KKN juga apa bukan yah..? Bang one mana nih.? Haha..) :D

Buktinya bisa kita lihat juga bagaimana reporter tvone yang live report + ikut 'nimbrung' dengan densus 88 serta hanya berjarak sekian puluh meter dari Tempat Kejadian Perkara/TKP (rumah persembunyian teroris).

Selain itu, walaupun belum ada rilis resmi dari polisi, berdasarkan sumber dari orang dalam yg didapat sejak dini, oleh reporter tvone tersebut diyakinkan bahwa Noordin M. Top (buron teroris #1) diduga berada di rumah tersebut.

Pemirsa pun Harap-Harap Cemas (H2C) menanti hasil akhir. Ibu rumah tangga dan remaja yg baru saja memasuki masa pubernya mungkin membayangkan ini semua seperti acara termehek-mehek di trans tv, dimana sang reporter dan densus 88 merupakan mandala dan cici panda yang sedang mendapat tugas baru untuk mencari jejak teroris paling dicari di Indonesia.

Tapi penonton malah kecewa di akhir acara. Si teroris yang diduga Noordin M. Top ternyata salah. Skenario menjadi berantakan dan jadi anti-klimaks. [ padahal metro tv dan tv lain juga percaya aja bahwa teroris yang dimaksud adalah Noordin (-_-)' ]

Kalau sudah begini kira2 siapa yang harus bertanggung jawab? informasi yang masih mentah dan belum valid sudah diumbar ke publik... tv lainnya pun tidak mau ketinggalan mengiyakan sehingga seakan-akan info tersebut dianggap benar...

Yah... Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.

paling enggak rumah persembunyian teroris milik Mohzari yang hancur lebur setelah diberondong tembakan dan kena ledakan mungkin cocok dijadikan tempat shooting acara Bedah Rumah episode berikutnya..
sengihnampakgigi
Tags: teroris densus 88 temanggung reality show noordin m. top

Tidak ada komentar:

Posting Komentar